Top Ad unit 728 × 90

Breaking News

recent

Fenomena Kaya tapi Miskin dan Miskin tapi Kaya di Indonesia

Rakyat indonesia kaya akan sumber daya alam manusia yang begitu luar biasa tapi herannya semakin banyak semakin aneh tingkah laku dan pola pikir mereka. dibawah ini akan dibahas beberapa moment yang sempat terekam dikehidupan manusia yang saya dapat kan dari artikel ini : fenomena (sebagian) masyarakat Indonesia: kaya tapi miskin atau miskin tapi kaya?

1. Bantuan BLSM


Kalian tentu masih ingat dengan pembagian blsm? ya, bantuan langsung ke masyarakat dalam bentuk uang tunai 300rb yang dulu sebagai kompensasi naiknya harga bbm. bantuan ini diberikan kepada masyarakat yang "katanya" miskin.

tapi ada beberapa diantara para pengantre jatah blsm yang tanpa malu-malu turut mengantri dengan memakai perhiasan emas dan menenteng handphone/bb. bahkan ada yang datang dengan mengendarai mobil

so, mereka ini miskin atau kaya? kalo kata ane:
"masyarakat kita marah bila dikatain miskin, tapi disisi lain berlomba-lomba mengaku miskin"

2. Pengemis

Pengemis di Jakarta Menolak Recehan

Macam-macam saja ulah pengemis di kota Jakarta. Berdalih mencari makan, para pengemis ini malah menolak saat diberi makanan dan membuang uang recehan.

Fakih, salah satu karyawan swasta di Jakarta ini mengaku dihampiri oleh seorang pengemis wanita. Pengemis yang berumur sekitar 60 tahun ini ini memelas dan meminta sedekah kepada Fakih.

"Permisi Pak, minta sedekahnya untuk makan," ujar Fakih menirukan ucapan pengemis itu saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Selasa (7/1).

Fakih yang posisinya dekat dengan kantin kemudian menawarkan agar pengemis itu makan. Nanti dia yang akan bayar.

"Eh dia enggak mau, katanya enggak usah," sambung Fakih kebingungan.

Kemudian Fakih memastikan lagi kalau pengemis itu tadi butuh makan. "Apa mau makan di tempat lain?" katanya pada pengemis.

Bukannya berterima kasih, pengemis dengan muka masam meninggalkan Fakih yang geleng-geleng kepala.

Hal yang tidak mengenakkan juga terjadi pada Lia. Saat warga Jakarta ini berkendara, Lia didatangi peminta-peminta.

"Saya kasih recehan. Eh dia malah buang uang saya," ucap Lia kesal.

Sambil menggerutu ibu pengemis itu mengatakan, "Cuma gopek!". Betapa kesalnya hati wanita ini, sejak saat itu dia berjanji tidak lagi memberi pengemis uang.

Dua cerita di atas patutnya menjadi bahan renungan bagi warga Jakarta untuk tidak lagi memberi uang kepada pengemis. Selain kemungkinan ditolak, mereka juga mengandalkan jalan ini untuk memperkaya diri tanpa usaha. Sebab bukan lagi uang Rp 100, Rp 200 bahkan Rp 500 yang mereka inginkan, tetapi di atas Rp 1.000 sambil memaksa.

3. Buruh

Tuntut Gaji Rp 3,7 Juta, Buruh Bawa Ninja 250 cc

Otosia.com - Kawasan Industri Pulogadung (KIP), Jakarta Timur dipadati oleh ribuan buruh. Mereka bermaksud untuk menuntut kenaikan upah menjadi Rp 3,7 juta per bulan.

Anehnya, diantara kerumunan buruh yang konvoi menggunakan sepeda motor itu ada salah seorang buruh yang kedapatan menunggangi sebuah moge sport Kawasaki Ninja 250. Bagaimana tidak aneh, di situs resmi kawasaki Motor Indonesia (KMI) satu unit motor baru Kawasaki Ninja 250 ini dibanderol harga Rp 52,9 juta OTR JADETABEK.

Berdasarkan lansiran oleh merdeka.com, Jum'at (01/11), pemilik moge yang diketahui bernama Taufiq mengaku kalau motor tersebut didapatnya dari hasil kredit.

Pria lajang tersebut juga menuturkan kalau gajinya sekarang yang sebesar Rp 2,5 juta per bulan tidak cukup untuk menutupi biaya kredit motor. "Kalau gaji kita jadi Rp 3,7 juta kan, jadi gak perlu lah nyari-nyari lemburan lagi. Kreditan motor juga aman sebesar Rp 1,5 juta selama tiga tahun setengah," jelas Taufiq.

Dengan kata lain, alasan dibalik permintaan kenaikan gaji Taufiq menjadi Rp 3,7 juta per bulan itu dikarenakan oleh kredit moge miliknya yang tinggi.

4. Pengungsi

Kisah Miris, Pengungsi Banjir Tolak Nasi Bungkus dan Mi Instan

JAKARTA, KOMPAS.com — Di tengah membanjirnya bantuan bagi korban banjir, terselip kisah-kisah miris, bahkan yang membuat marah. Ada pengungsi banjir menolak bantuan karena tidak sesuai selera.

”Saya dan tetangga tahun lalu sengaja mengumpulkan uang untuk membeli bahan-bahan makanan bagi korban banjir di sekitar tempat tinggal kami. Namun, mereka menolak dan meminta makanan jadi saja biar praktis,” kata Sartono, warga Cipinang, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.

Warga di lingkungan tempat tinggal Sartono pun kemudian membuat dapur umum dadakan dan memasak semua bahan kemudian diwadahi dalam kotak-kotak yang bersih dan rapi. ”Namun, kami terkejut. Ketika kami datang bawa nasi kotak, korban banjir tanya lauknya apa. Mereka terlihat tidak berkenan dengan lauk-pauk dan nasi dari kami. Sumbangan kami tidak disentuh,” tuturnya.

Sartono dan para tetangganya hanya bisa terdiam walau marah luar biasa. Meski sederhana, Sartono menjamin nasi serta lauk dari mereka terjamin rasa dan kualitas gizinya.

Ratih, warga Sentul, Bogor, yang kebetulan berada di sekitar Cawang, Jakarta Timur, akhir pekan lalu terbengong-bengong menyaksikan beberapa korban banjir membuang nasi dan lauk-pauk yang diambilnya dari dapur umum di posko dinas sosial di kawasan itu.

”Dia ambil terus dimakan sedikit, lalu dibuang juga di dekat posko itu semuanya. Gila, sudah tidak dimakan, buang sembarangan. Makanan yang dibuang menumpuk, lho. Berarti banyak yang perilakunya seperti itu. Nanti yang membersihkan relawan di situ juga. Parah banget,” ungkapnya.

Pasokan baju pantas pakai untuk korban banjir menemui nasib sama. Terkadang, karena dianggap jelek, pakaian bekas itu pun hanya teronggok menggunung selama berhari-hari tanpa ada yang menyentuh.

Seorang warga di Bukit Duri, awal pekan lalu, mengatakan, setelah berhari-hari rumahnya kebanjiran dan hidup di pengungsian, ia tentu bosan dengan mi instan, telur, nasi bungkus, dan pakaian yang buruk.

Jadi bagaimana komentar anda dibawah ini :D

Fenomena Kaya tapi Miskin dan Miskin tapi Kaya di Indonesia Reviewed by andi msc on 04.58 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by Article of the day © 2014 - 2015
Powered By Blogger, Designed by Sweetheme

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.